Selasa, 03 Februari 2009

Meruwat Bumi dengan Tradisi

Asarpin
Pembaca sastra, tinggal di Tanjungkarang



Apakah manusia modern saat ini masih memiliki pengertian bumi sebagai wilayah kehidupan bersama? Bagaimanakah pengertian seperti ini masih menyatakan diri di sekitar kita?
Bumi dan kehidupan bersama kini berada dalam pertanyaan yang sama mencemaskannya. Orang semakin bergantung pada alat-alat kekuasaan untuk menyelamatkan diri sendiri, yang digunakan mulai dari kedudukan hingga penguasaan ekonomi; dan dipraktekkan dari tingkat individu hingga negara.
Kehidupan di bumi kita kian terancam. Pohon-pohon bertumbangan, rumah-rumah berantakan, binatang-binatang kian menjauh dari sukma bumi. Kehidupan modern memang tengah beramai-ramai menuju peradaban ‘kota’, ‘modern’, ‘kemajuan’, ‘pembangunan’. Secara ekologis, semua itu saling terpatahkan.
Dalam kesenian kontemporer kita juga jarang ditemukan masalah keselamatan bumi dan kehidupan bersama. Prosedur yang ditempuhnya selalu saja ke arah pemberontakan terhadap konvensi dan mainstream. Padahal konsep keselamatan dalam masyarakat tradisi merupakan totemisme, acuan terhadap nilai kosmologi bersama yang ekologis sifatnya; melakukan upacara keselamatan bersama, membebaskan diri dari balabencana, membersihkan bumi dan alam semesta dari roh jahat.
Kita hidup dan berkarya dalam penguasaan sejarah yang mengabaikan subkultur yang menjadi akar penting penentu eksistensinya: kita melihat dalam kehidupan keseharian lebarnya kesenjangan antara retorika dan tindakan. Ruang politik, sosial dan budaya masyarakat kian terbatas ditemukan di sekitar kita. Tekanan pragmatisme kian membesar. Refleksi terhadap kehidupan bersama yang bersifat mistis kian kehilangan peluangnya untuk dinyatakan. Posisi alam dan hubungan antar-masyarakat lebih banyak merefleksikan ketakutan kita bersama. Masyarakat pun kehilangan modal sosialnya—rasa saling percaya, kohesi sosial, kebersamaan.
Perkembangan kampung yang mepresentasi dirinya dengan pemandangan kesenjangan mencengangkan, yang meliputi perumahan, tingkat penghasilan, gaya hidup, ketertiban umum yang tidak cukup nyaman, hingga pelayanan sosial yang banyak mengandung masalah, adalah sebagian dari gambaran kehidupan bersama kita yang tidak nyaman.
Dunia kampung kita telah jatuh ke dalam gambaran hiruk-pikuk, sarang pertama dalam penampungan urban, kumuh dan padat, dan setiap saat berada dalam ancaman kebakaran atau penggusuran. Sejarah tidak memberi toleransi pada keberadan mereka. Kehidupan bersama tidak sekadar membalikkan ‘desa sebagai latar depan’ dalam kehidupan kontemporer. Kita tidak membutuhkan ‘desa sebagai latar depan’ seraya menjungkirbalikkan kota sebagai latar belakang. Yang dibutuhkan adalah ruang perantara yang menghubungi latar desa-kota yang sama yang saling mengisi.
Kompleksitas kehidupan bumi telah menenggelamkan kita ke dalam apa yang disebut krisis utopia—yang memanifes secara paling kuat pada hilangnya kemampuan dan keberanian masyarakat kita untuk bermimpi. Kita bergulat dalam kondisi insomnia melelahkan, yang menghilangkan kejernihan akal budi untuk dapat secara kuat dan imaginatif mengatasi permasalahan.
Di sisi lain, berbagai bencana yang menimpa kita saat ini, menyediakan ruang luas untuk penciptaan alternatif-alternatif radikal yang kreatif. Pemecahan konvensional mungkin hanya akan mengulangi kesalahan mendasar sebelumnya. Maka kita membutuhkan sebuah refleksi dan keheningan untuk mengambil langkah-langkah inovatif dan kreatif.
Pengkotak-kotakan kebudayaan terjadi dimana-mana. Model pembangunan di dalam era modernisasi hanya memikirkan dirinya sendiri-sendiri tanpa peduli faktor lain yang sesungguhnya berkaitan. Karena itu bentuk pembangunan di dalam kompetisinya untuk mengejar ketinggalan, untuk mencapai kemajuan (progres) menjadi semacam gurita yang menakutkan dan memangsa yang lainnya.
Tanpa kita sadari bersama, kita telah memusnahkan apa-apa yang sesungguhnya merupakan suatu kekayaan bagi segala hal, yang mana memiliki manfaat tidak hanya pada masa kekinian akan tetapi bersifat berkelanjutan di masa depan.
Kini agaknya kita rindu akan tradisi upacara dengan mengorbankan sesuatu karena kian hari kian banyak hutan digunduli. Di Toraja, di Tengger, di Jawa, dan banyak lagi, masyarakat memiliki nilai bersama untuk menjaga bumi dari kerusakan. Meruwat bumi adalah upaya menjaga refleksi kreatif bagi pemecahan konstruktif atas permasalahan bumi dan kehidupan kita bersama.
Orang Minangkabau menyebut negerinya sebagai Alam Minangkabau atau “Nagari”. Bahkan mereka juga menyebut dirinya "Anak Alam". Dalam legenda masyarakat Lampung, banyak kita temukan kisah-kisah kehidupan ‘Anak Dalam’ yang begitu dekat dengan bumi dan lingkungan yang sakral.
Meruwat bumi kembali dengan tradisi kian menemukan momentumnya. Meruwat bumi bisa memaknai kembali kehidupan bersama kita. Bumi perlu diruwat (dibersihkan) karena kelahirannya membawa bahaya. Kebobrokan dan ketidakjujuran yang tengah menghimpit bumi ini sudah selayaknya diusir dan disirnakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar